Berita 6 januari 2014
BANDUNG, TRIBUN - Setiap kelurahan tahun 2014 mendapat jatah program urban farming hanya untuk di satu RW. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Kota Bandung Ely Wasliah mengatakan, di Kota Bandung ada 151 kelurahan berarti ada 151 RW yang akan dijadikan percontohan kegiatan pertanian perkotaan atau urban farming.
Menurut Elly, urban farming ini memanfaatkan pekarangan dan lahan kosong yang ada di rumah warga untuk ditanami sayuran atau tanaman hias.
"Dengan memanfaatkan lahan kosong diharapkan warga bisa memenuhi kebutuhan sayuran dan cabai untuk kebutuhan sehar-hari," ujar Ely di Balai Kota, Senin (6/1).
Ely mengatakan, komoditas yang dikembangkan untuk urban farming ini, seperti cabai merah, cabai rawit, tomat, dan lainnya.
"Sayuran dan cabai harganya seringkali bergejolak jadi jika warga punya tanaman sendiri bisa menikmati tanpa harus beli mahal," ujar Ely.
Pemerintah Kota Bandung mulai menggelorakan kembali kegiatan Pertanian Kota, atau yang lebih populer disebut dengan Urban Farming. Kegiatan ini telah populer di beberapa tempat di Bandung, salah satunya di Sekolah Alam Bandung, Dago Utara. Di tempat ini, lahan kecil yang hanya seluas empat puluh meter persegi disulap menjadi kebun kecil yang ditanami berbagai sayuran.
Beberapa sayurna yang ditanam di tempat ini adalah kacang panjang, mentimun, kangkung, dan pakcoy. Pemilihan sayuran ini dikarenakan kemudahan dalam perawatan dan kecepatannya untuk dipanen.
Salah satu komunitas yang mendukung Urban Farming adalah Bandung Berkebun. Bandung Berkebun memang mendukung
aktivitas berkebun di kota, terutama dengan tanaman atau sayuran. Komunitas ini
rajin mengadakan acara edukasi kepada warga untuk mempromosikan cara berkebun
di perkotaan. Berkebun di kota bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan di
tengah keruwetan kehidupan modern.
Kebun yang ada di Sekolah
Alam Bandung juga merupakan program dari Bandung Berkebun. Komunitas yang
menggalakan kegiatan urban
farming ini memang mengajarkan kepada warga kota
tentang dasar-dasar berkebun. Berbagai sayuran di kebun itu sangat cepat besar
dan dipanen. Hanya dalam lima minggu, berbagai sayuran yang ditanam itu sudah
bisa kita panen. Dengan iklim Bandung yang relatif sejuk, sayuran tertentu
memang lebih mudah tumbuh dengan maksimal.
Dana untuk membuat kebun di
kota tidaklah mahal. Dengan dana kurang dari lima puluh ribu kita bisa membeli
kantung bibit, pupuk organik, serta pestisida organik. Untuk itu, tidak ada
salahnya jika kita menggalakan kegiatan urban farming ini.
Membuat kebun di kota memang tidak selalu bertujuan untuk
dikonsumi. Kita mungkin bisa menanam tanaman hias yang indah. Di tengah polusi
udara yang melanda kota, ada kekhawatiran bahwa sayuran yang ditanam tidak
layak makan. Namun hal ini sebenarnya merupakan kekhawatiran yang belum
terbukti dengan pasti.
Membuat kebun di kota memang memiliki tujuan untuk memanfaatkan
lahan kosong yang ada. Jangan sampai lahan kosong ini malah dibangun bangunan,
sehingga mengurangi lahan resapan air di kota. Selain itu, berkebun juga
merupakan kegiatan alternatif yang bisa mengurangi tingkat stres, yang sering
melanda masyarakat perkotaan.
Menanam tanaman dan kemudian
melihat tumbuh dan bisa dipanen merupakan sebuah kepuasan sendiri. Selain itu,
tanaman hijau merupakan produsen oksigen. Semakin banyak tanaman yang ditanam
di perkotaan berarti semakin banyak penyumbang oksigen bagi kehidupan. Melihat
berbagai manfaat yang ada, tidak ada salahnya kita ikut serta dalam kegiatan urban
farming di lingkungan sekitar kita.